Minggu, 24 Juni 2012

Kekasih Halal

"Manusia diciptakan dengan cinta. Dan mereka hidup dengan cinta yang membara dalam hati mereka."

Memiliki kekasih yang cantik dan salehah adalah impian setiap pemuda, biasanya salehah diidentikkan dengan perempuan yang memakai kerudung, meskipun tidak ada jaminan bahwa setiap perempuan yang berkerudung itu  salehah, tapi setiap perempuan yang salehah pasti memakai kerudung serta berpakaian yang mampu menyembunyikan lekuk tubuh serta rambutnya.

Aneh rasanya kalau melihat perempuan berkerudung tapi memakai kaos ketat yang menonjolkan bagian-bagian tubuhnya. Tertutup tapi menonjol, apa bedanya dengan yang sedikit terbuka? Mungkin mereka belum memahami maksud dari berhijab. Tapi mungkin itu masih lebih baik jika dibandingkan dengan mereka yang merasa sebagai perempuan salehah, tapi belum tergerak hatinya untuk berhijab.

Kenapa harus yang salehah? Apa perempuan yang tidak salehah tidak layak untuk dicintai? Tuhan telah menetapkan jodoh tiap manusia, seorang pemuda yang saleh sudah selayaknya mendapatkan perempuan yang salehah. Dan jika menginginkan sebuah rumahtangga yang harmonis, sakinah mawwadah dan warrohmah, pilihannya sudah tidak bisa ditawar lagi, yaitu perempuan yang salehah.

Saat kita mengharapkan perempuan yang salehah, sudah seharusnya juga kita memotivasi diri untuk menjadi seorang yang saleh, yang layak mendampingi , dan menjadi imam bagi perempuan salehah. Jangan sampai perempuan salehah itu menurunkan level dan derajatnya hanya untuk menjadi pendamping kita yang level dan derajatnya masih di bawahnya, dan begitu juga sebaliknya. Kita tidak perlu terlalu bersedih jika gagal mendapat perempuan salehah buruan kita. Yang pasti Tuhan telah menyiapkan pengganti yang lebih cocok untuk kita.


Dion mengenal Firda sebagai seorang partner di kantornya, mereka sering bertemu dan semakin dekat, sehingga tumbuh benih-benih rasa suka di antara keduanya. Perhatian dan perlakuan Dion jelas menyiratkan perasannya. Firda pun mampu menangkap sinyal-sinyal itu dengan baik, Firda pun membalas sinyal yang dikirimkan Dion melalui perlakuan dan bahasa tubuhnya. Tapi Firda hanyalah seorang perempuan yang merasa tak mungkin menyatakan perasaannya sebelum Dion melakukannya.

Hari yang dinanti itupun tiba, sebelumnya Dion mengirimkan pesan singkat kepada Firda. Mereka janjian sore ini sepulang kerja, dengan mantap Firda membalas SMS Dion, meskipun hatinya bergetar, jantungnya berdegup kencang. “Mungkin inilah saatnya…”, gumam Firda dalam hati.

Dion dengan motornya, mengajak Firda mengelilingi simpang lima Semarang sampai tujuh kali. Sebelum akhirnya Dion mengarahkan motornya ke arah selatan menuju taman Menteri Supeno depan SMA 1.  Dion merasa di tempat ini cocok untuk mengungkapkan perasaannya. Dan di tempat ini pula kedua insan ini mengucapkan janji setia, saling mencintai dan menyayangi hingga ke jenjang pernikahan.

Hari-hari berlalu, dan semua terasa indah bagi keduanya. Firda senang mendapat perhatian khusus dari kekasihnya. Bahkan suatu ketika Dion mengatakan, jika suatu saat nanti Firda menjadi istrinya, dia ingin Firda mengenakan kerudung, suatu hal yang wajib bagi wanita muslimah. Firda merasa sangat tersanjung mendengarnya, membayangkan suatu saat nanti menjadi istri dari kekasihnya saat ini. Firda sangat yakin bahwa suatu saat nanti datang waktunya dia akan halal bagi Dion.

Tapi Firda yang pernah bersekolah di Madrasah Aliyah (MA) tak ingin terlalu lama menunggu sampai menjadi istri Dion hanya untuk mengenakan kerudung. Hatinya sudah terketuk, mendapat hidayah dari Sang Kuasa. “Kalau bisa sekarang, kenapa harus menunggu sampai nanti…” pikirnya dalam hati.

Sampai akhirnya Firda memantapkan hatinya untuk memakai jilbab. Dia membeli kain beberapa meter untuk dijadikan seragam kerja berlengan panjang. Karena seragamnya yang sekarang berlengan pendek, sehingga tidak cocok dipakai untuk dipadukan dengan kerudungnya nanti.

Tak ayal keputusan Firda membuat Dion terkejut, tapi Firda punya alasan tepat yang tidak bisa dibantah oleh Dion. Meski begitu Firda merasa bingung dengan keterkejutan Dion. Ketika Dion mengungkapkan keinginannya agar Firda mengenakan jilbab, Firda merasa bahwa Dion adalah seorang muslim yang saleh, yang layak menjadi imamnya kelak. Tapi ketika Firda memenuhi permintaannya, kenapa justru Dion seolah merasa keberatan.

“ Kak…”, kata Firda, ketika Dion datang ke rumahnya dan mendapatinya memakai kerudung dan dengan baju gamis, tidak seperti biasanya yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek “kalau Ade bisa pakai jilbab sekarang, kenapa sih harus nunggu sampai jadi istri Kakak? Bukannya memakai jilbab itu wajib bagi wanita muslimah?”

“Ehh….”, Dion bingung menjawabnya.

Sejak saat itu dan selanjutnya, Firda selalu berpenampilan anggun dengan kerudung dan gamisnya. Dan dia juga sedikit menjaga jarak dengan Dion. Jika biasanya mereka bergandeng tangan saat berjalan bersama, kini Firda menolaknya dengan cara yang halus. Firda tak ingin kekasihnya sakit hati, tapi Firda juga tidak ingin dipandang negatif oleh orang yang melihatnya. Apa kata orang ketika melihat seorang perempuan berkerudung, berjalan bergandengan tangan dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya, bukan juga muhrimnya?

Lama kelamaan Dion merasa, bahwa bukan ini hubungan yang diinginkannya. Dion ingin bisa menyentuh tangan Firda, menggandengnya, memeluknya, lebih-lebih bisa menciumnya. Seperti model pacaran yang sering dipertontonkan di hampir semua cerita sinetron-sinetron picisan. Dan saat ini, Dion merasa bahwa dia sudah tak punya  peluang untuk melakukannya dengan Firda.

“Dik! Apa aku ini najis bagimu?” tanya Dion suatu ketika dia mengajak Firda jalan-jalan dengan motornya, “bisa kan, kamu merapatkan dudukmu dan memegangi pinggangku?”

“Maaf Kak! Ade nggak bisa”

Dion bersungut-sungut, dia tahu dia tidak bisa memaksa Firda melakukannya. Dion tahu Firda benar, tapi tetap saja Dion ingin mendapat perlakukan yang mesra dari Firda. Pernah berpikir untuk meninggalkan Firda, tapi untuk saat ini, Firda adalah ratu di hatinya, dengan kata lain tak ada perempuan lain yang disukainya selain Firda.

Bahkan Dion sudah membawa orang tuanya untuk menemui orang rua Firda. Kedua insan ini ditunangkan. Tapi meski begitu, Firda masihlah belum halal untuk Dion. Meski pada awalnya Dion berpikir, jika mereka sudah bertunangan, Firda bisa memperlakukannya dengan mesra. Tapi Firda tetaplah Firda, seorang perempuan yang keras kepala, dan teguh pendiriannya. Tapi Firda selalu menghindari perdebatan yang panjang. Firda yakin bahwa sebenarnya Dion juga tahu dengan hukum Islam. Dan Firda masih yakin bahwa Dion adalah imamnya kelak.

Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Hubungan mereka kandas di tengah jalan. Dion berhubungan dengan salah satu teman kerjanya yang lain. Dan kini tengah mengandung 2 bulan. Langit serasa runtuh menimpa Firda, ketika mendengar berita itu. Rasanya tidak rela hubungannya dengan Dion berakhir setragis ini.

Lebih-lebih bagi keluarga Firda yang telah menerima pertunangannya. Apa kata tetangga? Firda menangis tersedu-sedu, bersimpuh di kaki ibunya, berharap ibunya tegar menerima kenyataan. Calon menantunya yang dibanggakannya ternyata tidak sebaik yang dibayangkan. Tapi dukungan datang dari ayahnya.

“Mungkin dia bukan jodohmu Nduk….”, Ayah Firda mencoba menenangkan putrinya. “Masih bagus ketahuan sekarang, Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik daripada Dion untukmu, kamu yang sabar saja.”

“Tapi pak…!”, air mata Firda jatuh bercucuran, “apa kata tetangga?”

“Nduk, tidak ada seorangpun yang mengharapkan kejadian seperti ini ”, Ayah Firda menghela nafas, menyembunyikan kesedihan dari putrinya, “coba terima kenyataan dan bersyukurlah, kamu bisa menjaga kehormatanmu, ini memang menyakitkan, tapi saat menimpa pada kita, kita harus tegar menghadapinya, banyak-banyaklah berzikir”

Firda masih belum bisa menghentikan tangisnya. Tapi hatinya mulai merasa tenang. Benar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Dia harus bersyukur karena selama pacaran dengan Dion, dia masih bisa menjaga kehormatannya. Masih berpegang teguh pada nilai-nilai agama. Mungkin jika dia membiarkan Dion menjamahnya, bukan tak mungkin nasibnya sekarang akan lebih buruk, kehormatan keluarganya akan tercoreng moreng.

Firda memantabkan hatinya untuk bangkit. Menuruti nasihat ayahnya untuk memperbanyak zikir. Mencoba ikhlas, karena segala kejadian di dunia ini sudah direncanakan oleh Sang Khalik. Melupakan semua ini memang tidak mungkin, kecuali bahwa Firda mengalami amnesia atau lupa ingatan. Jalan yang terbaik adalah selalu bersyukur dan berusaha ikhlas. Dengan begitu perlahan-lahan sakit di hatinya bisa terobati, tidak ada cara yang instan untuk mengobati hati yang luka. Tapi keinginan dan tekad yang kuat dari pemilik hati yang luka bisa mempercepat penyembuhan. Wallahu alam






Jumat, 08 Juni 2012

No Idea

Assalamualaikum, apakabar pembaca setia talkiwong? Sepertinya beberapa hari ini blog talkiwong sepi pengunjung. Bisa dimaklumi, karena update-nya cuma seminggu sekali. Padahal untuk dapat terus menarik pengunjung, blog itu harus selalu di-update dengan posting-posting terbaru. Apalagi beberapa hari ini konsentrasi talkiwong terpecah. Ya, selain menjadi penulis tetap di talkiwong.blogspot.com talkiwong juga baru-baru ini menjadi salah satu penulis di www.gudangtekno.com (jangan lupa kunjungi website-nya ya).

Tapi talkiwong akan tetap berusaha untuk selalu update blog kesayangan kita ini. Hanya saja kadang-kadang inspirasi tuh kok nggak lewat, maupun sekedar melintas di pikiran. Seperti sekarang ini, saking nggak tahunya mau nulis apa, jadi apa yang ada di dalam pikiran dikeluarin aja. Hari ini talkiwong baru saja menyelesaikan tulisan di www.gudangtekno.com, coba lihat deh di link-nya, sama sekalian kalau sudah dibuka, tolong pencet tombol like ya. Hehehehe sekalian promosi.



Atau kalau teman-teman misalkan ada ide apa gitu, bisa kontak talkiwong. Misalkan mau bahas apa, kirim aja email ke tsoul56@gmail.com nanti talkiwong akan menyiapkan bahan tulisannya, terus dirangkum seringkas-ringkasnya dan sepadat-padatnya untuk kemudian di-posting di blog ini.

Sabtu, 02 Juni 2012

Love by Wire

Pernah dengar istilah Drive by Wire? Istilah ini populer pada pertengahan dekade 2000-an, khususnya dalam bidang MotoGP, tapi untuk dunia F1 istilah ini sudah kuno, karena F1 sudah lebih awal menggunakannya. Drive by wire berarti seluruh sistem mekanik yang ada pada motor dikendalikan dengan kabel yang disambung ke otak/CPU/ processor. Sehingga jika seorang pembalap menginjak pedal rem, sebenarnya dia memberikan perintah kepada processor untuk melakukan pengereman, prosessor memberikan perintah kepada sensor-sensor yang ada pada sistem mekanik untuk mengerem. Canggih kan? Legenda MotoGP Valentino Rossi sempat merasa canggung pada awal-awal penggunaannya. Teknologi ini sebenarnya di-adopsi dari ajang balap F1.


Apa hubungannya sama tajuk kita kali ini Love by Wire? Nggak ada, tadi cuman sekedar intermezzo saja, biar tambah pengetahuan. Pasti pada baru tahu kan? Hehehe... Pokoknya nggak rugi lah bergaul sama talkiwong, dijamin tambah pinter.

Di jaman yang semakin maju ini, aneh rasanya kalau melihat ada orang tidak punya, atau tidak membawa handphone atau biasa disebut hape. Dari usia anak-anak sampai kakek-nenek semua tahu dan punya hape. Entah untuk sekedar sms-an, telepon, main game, bisa juga facebook-an.

Risa dan Fajar sudah sebulan jadian. Dua sejoli ini layak berterima kasih pada teknologi seluler, dimana keduanya sangat terbantu dengan sms. Fajar yang terpesona dengan Risa teman kerjanya, sangat intens mengirimkan pesan singkat rayuan, gurauan, maupun sekedar curhat. Risa juga merasa senang dan tersanjung karena kini ada yang memperhatikannya, meski hanya melalui sms. Keduanya belum berani membuka hubungannya di depan teman-teman mereka yang lain. Bukan hanya karena mereka satu kerjaan, sebenarnya Risa dan Fajar satu bagian. Mereka tidak mau hubungan mereka justru mengganggu konsentrasi pada kerjaan, untuk itulah mereka sepakat untuk merahasiakan kisah cintanya.

Setiap hari Fajar menyirami Risa dengan puluhan sms kata-kata pujian. Risa membalasnya dengan menganggap kata-kata Fajar terlalu berlebihan atau lebay, meski sebenarnya dalam hati Risa tersanjung dan kagum, dengan rayuan gombal Fajar yang seakan tak pernah kering. Anehnya Fajar tidak pernah merasa tersinggung dan justru semakin membuatnya semangat untuk terus menyerang Risa dengan kata-katanya. Sampai akhirnya Risa mantab untuk menerima pinangan Fajar untuk menjadi kekasih hatinya. Butuh waktu sebulan bagi Fajar untuk meyakinkan Risa dengan pesan-pesan singkatnya.

Setiap hari tak kurang dari puluhan sms terkirim dari hape mereka berdua. Lama-lama tanpa mereka sadari, hubungan itu justru menurunkan kinerja keduanya. Selalu muncul perasaan cemas atau galau, kalau sms-nya belum dibalas. Setiap 10 sampai 30 menit mereka membuka hapenya untuk memeriksa pesan yang masuk, atau membalasnya. Tapi kadang-kadang salah satu dari mereka tenggelam dalam kesibukan pekerjaan, sedang yang lain merasa malas melakukan pekerjaan sebelum sms-nya dibalas.

Hingga muncul ide untuk berkirim pesan melalui komputer mereka yang terhubung dengan LAN (Local Area Network). Sebenarnya chat via LAN ini bukanlah hal baru. Bahkan kebanyakan software untuk chat berkembang pada era 2006. Tapi bagi keduanya, ini adalah sesuatu hal yang baru. Jadilah Fajar searching di google, dengan komputernya yang sebenarnya tidak diset untuk terhubung ke internet, tapi demi sang kekasih pujaan, Fajar sengaja membeli modem, dan secara sembunyi-sembunyi menancapkannya di port USB bagian belakang CPU.

Setelah lama pencarian, didapatlah beberapa software chat. Dan setelah dicoba-coba, akhirnya Fajar menentukan pilihannya. Kemudian Fajar meng-installnya juga pada komputer Risa. Tersenyumlah keduanya tatkala berhasil saling mengirim pesan melalui komputernya. Rasanya lebih mudah berkomunikasi dengan mengirim pesan, daripada harus mendatanginya, ataupun via saluran intercomm.

Melalui saluran kabel LAN inilah, cinta keduanya bersemi dan berkembang. Mereka paham bahwa jika ketahuan resikonya akan berat, selain harus menahan malu menjadi bahan gunjingan orang sekantor, mungkin mereka juga akan mendapat sanksi indisiplinner. Tapi, hidup hanya akan terasa datar tanpa adanya resiko kan? "live is never flat" kalau kata Agnes Monica. Biasanya sesuatu yang berresiko itu lebih berharga dari pada yang tidak berresiko.